LPM UBB, Balunijuk – Pertemuan ke-15 International Class on Asian Community 2020 diselenggarakan melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting, pada Jum’at, 7 Agustus 2020, pukul 13.30 WIB.

Panita penyelenggara menyelenggarakan kelas internasional secara online atau daring dalam bentuk webinar, serta terbuka untuk umum. Tidak dibatasi hanya kepada peserta internal ICOAC 2020 saja

Pertemuan ke-15 dari 16 pertemuan pada International Class on Asian Community memiliki tema yaitu 1) ”Language and Culture in Asia”, dan 2) “Socio Culture and Asian Community Peace.

Dr. Changzoo Song (The University of Auckland, New Zealand), dengan bidang kajian Korean and Asian Studies, dihadirkan sebagai Narasumber (Lecturer). Narasumber berikutnya, Agustinus Gergorius Raja Dasion, M.A., Pemerhati Sosial Nusa Tenggara Timur, yang saat ini sedang menempuh studi S3 di Universitas Gadjah Mada.

Dian Fitri K, M.A. (Dosen Sastra Inggris FISIP Universitas Bangka Belitung) sebagai moderator dalam pertemuan tersebut. Acara dibuka oleh sambutan dari Dini Wulansari, M.A. (Sekretaris Jurusan Sastra Inggris FISIP Universitas Bangka Belitung) sebagai Welcome Speech.

Language and Culture in Asia

Penyampaian materi diawali oleh Dr. Changzoo Song, dengan menjelaskan perbedaan antara Asia dengan Eropa dari segi lingkungan, geografis wilayah, bahasa, dan budaya. Dr. Changzoo Song memaparkan materinya dari sudut padang perbandingan antara Asia dengan Eropa. Dengan begitu, mahasiswa peserta kelas international akan lebih memahami Asia lebih jauh.

Dari segi geografis, Asia memiliki wilayah yang sangat beragam dengan luas wilayah tiap-tiap negara sangat berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara di Eropa yang memiliki luas wilayah yang hampir sama. Tak hanya itu, orang-orang Eropa cenderung memiliki jenis makanan dari bahan yang sama dan cara makan yang sama. Berbeda dengan Asia yang memiliki berbagai macam jenis bahan makanan dan juga cara makan yang berbeda tiap-tiap negaranya. Dr. Changzoo Song menambahkan, bahkan di Asia, material bahan dari alat makan yang digunakan pun berbeda. Sebagai contoh, sumpit yang digunakan untuk makan di Jepang, Korea, dan Cina memiliki ukuran dan bahan yang berbeda. Ada yang terbuat dari kayu dan ada yang terbuat dari metal. Hal ini menurut Dr. Changzoo Song mengidentifikasikan bahwa Asia sangatlah beragam bahkan dari hal-hal yang dilakukan setiap hari.

Perbadaan lain antara Eropa dan Asia adalah dari kebiasaan dan sikap orang-orangnya. Di Eropa, individualisme atau kenyamanan pribadi lebih diutamakan dibandingkan dengan Asia yang lebih mengutamakan kepentingan kelompok atau kolektivisme. Dari segi bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, masyarakat di Asia memiliki bahasa yang lebih beragam dari Eropa, yang menjadikan pemahaman tentang bahasa dan budaya antara masyarakat Asia sangat penting untuk dilakukan.

Dalam pemaparan materinya, Dr. Changzoo Song juga menjelaskan tentang “The Four Asia” atau empat wilayah negara di Asia yakni Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Tenggara, dan Asia Timur. Terakhir dalam pemaparannya Dr. Changzoo Song menjelaskan tentang persamaan budaya di Asia. Menurutnya, masyarakat Asia lebih mengutamakan kesepakatan yang disetujui bersama, lebih mengutamakan kepentingan kelompok dari pada sikap individualisme. Bahkan menurutnya, agama-agama yang dianut oleh masyarakat Asia lebih menekankan kebersamaan, mengutamakan nilai-nilai kelompok seperti agama Budha, Hindu, Islam dan lainnya.

Pada akhir pembahasan, Dr. Chang Joo Song menekankan bahwa di Asia, pemerintah harus mendorong masyarakatnya untuk lebih giat belajar bahasa dan budaya dari negara lain karena hal tersebut akan lebih membawa ke arah yang demokratis antara masyarakat Asia.

Social Culture and Asian Community Peace

Agustinus Gergorius Raja Dasion, M.A., pada sesi ini, memaparkan dan menjelaskan mengenai konflik yang terjadi di dalam negara, terkhusus yang terjadi di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari fakta yang ada saat ini dimana tradisi kekeluargaan dan gotong royong tidak lagi melindungi bangsa Indonesia dalam menghadapi modernisme. Realitas ruang publik dipenuhi dengan perebutan kepentingan dan kekuasaan. Politik identitas yang semakin membangun hambatan.

Hal ini tentu menimbulkan konflik, yang dimana konflik terlihat dari 3 sisi, yaitu:
1. Demokrasi: kebebasan yang “terlalu jauh”, politik identitas, toleransi.
2. Developmentalism: pembangunan selalu dalam kerangka kapitalisme.
3. Keamanan: aparatur negara yang berperan dalam disiplin dan pemerintahan, semuanya demi “keamanan palsu”.

Konflik tersebut dapat diredam dengan beberapa faktor, yaitu:
1. Multikulturalisme, penerimaan pluralitas dan berbagai macam nilai, sistem sosial, praktik budaya, adat istiadat, dan filosofi.
2. Politik Pengakuan, menekankan pentingnya hak atas penghormatan yang sama untuk berbagai konsep kehidupan baik yang membentuk identitas manusia maupun menuntut kesetaraan semua budaya.
3. Untuk Memenuhi Cinta, pembentukan identitas manusia tidak dapat ada tanpa pengenalan intersubjektif. ·
4. Membentuk Identitas Kolektif, memahami “diri” (sebagai bangsa)
5. Parresiast, kita harus menjadi “parresiast” untuk perdamaian bangsa dan dunia.

Kegiatan International Class on Asian Community 2020 memasuki tahap akhir dan pertemuan ke-16 akan diselenggarakan pada tanggal 13 Agustus 2020 mulai pukul 12.30 WIB dengan tema “One Asia One Value: Building the Commitment” beserta Closing and Awarding Ceremony.

Kemudian, sesi berikutnya adalah sesi tanya-jawab dimana peserta dipersilahkan untuk mengajukan pertanyaan yang sesuai dan relevan dengan tema yang disampaikan.

Untuk mengikuti kegiatan ini, dapat mendaftar melalui link registrasi https://bit.ly/16th_MeetingICOAC2020. Info lebih lanjut dapat menghubungi Dr. Diana Anggraeni, M.Hum (Contact Person) melalui Whatsapp ke 0813-2285-0892 atau melalui email ke ubb.fisip@gmail.com. (Diana/Agun)

(Red LPM UBB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *