Foto: dokumentasi pribadi.

Kevin Aryatama, Divisi Litbang LPM Alternatif

“Capek juga bikin puisi yang rasanya enggak menubuh dengan pengalaman keseharian.”

Kegelisahan ini muncul pada pertengahan 2022 lalu. Saat merasa setelah sejak kelas 8 menulis puisi, tapi, kok, rasanya puisi-puisi yang kubikin “berjarak” dari pengalaman keseharian. Aku ingat pernah menulis puisi-puisi liris memakai kalimat soal semilir angin lembah, karang lusinan warna, taman bunga megah jilid 1, taman bunga megah jilid 2, dan seterusnya. Padahal, tidak ada satupun yang pernah kualami sendiri.

Aku mendiagnosis ini efek dari terlalu patuh dengan konstruksi sosial yang membentuk anggapan umum mengenai apa-apa saja yang indah: yang harmonis, yang tinggi, yang mewah. Standar keindahan elitis dan kaku yang menyingkirkan pengalamanku yang banal atau biasa-biasa saja dari kategori “apa saja yang indah”. Standar yang sebetulnya tak jarang pula bersinggungan dengan pelanggengan penindasan dalam masyarakat, seperti kolonialitas yang bias kelas, seksis, dan rasis (bakal kelewat panjang kalau bahas ini dan bisa jadi satu tulisan panjang sendiri).

Jadi, berangkat dari kegelisahan ini, aku mulai sering bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana cara menangkap dan mengartikulasikan momen-momen puitis dalam pengalaman keseharianku yang banal?

Aku kemudian melakukan penelusuran otodidak sejak pertengahan 2022 sampai hari ini. Dalam pencarian yang kadang putus-sambung itu, aku menemukan beberapa konsep dan karya yang membantuku menavigasikan penelusuran atas pertanyaan tadi. Aku berjumpa dengan antipuisi Nicanor Parra, puisi “banal” William Carlos Williams, dan puisi dirty realism Charles Bukowski yang hanya bisa kuakses secara terbatas di jagad internet. Pada akhirnya, perjalanan ini membawaku pada dua kumpulan puisi yang sangat kurekomendasikan, yaitu Kertas Basah Dea Anugrah dan Ibukota/Air Mata Bardjan Triarti.

Puisi-puisi mereka memiliki satu benang merah: semuanya berusaha tidak tunduk di hadapan estetika konvensional yang mapan. Mereka berusaha menangkap momen-momen puitis dari pengalaman dan dengan penulisan yang sekalipun itu banal atau bahkan dianggap tabu nan jorok.

Sebagai penutup, aku ingin menyertakan 6 puisi hasil refleksi dan penelusuranku yang sok nyeni. Urutannya berdasarkan tanggal penulisan, bukan pemeringkatan dari yang terbaik. Kebanyakan kutulis macam berceloteh lisan atau kadang gaya chat-ku. Kontennya jujur dan dekat dari pengalaman keseharianku, baik yang murni personal maupun politis. Bagus atau tidak bahkan tidak terlalu kupusingkan. Yang terpenting, setidaknya aku lega karena mulai bisa mengarahkan proses kreatifku untuk menangkap dan mengartikulasikan banalitas hidupku yang, ya sudah, memang begini-gini saja.

Selamat membaca!

Perang Dapur

Tiada semata kebetulan
ayam ungkep sama kuning
dengan lampu lalu lintas.

Mendaratlah ayam ungkep
pada wajah minyak panas.
Detik-detik hening sebelum
letusan peluru nyasar ke wajah.

2022

Kompilasi Kesaksian

HIDUP PEREMPUAN YANG MELAWAN! Suiwuwit, ceweekk~ Jangan sombong lach kalo abang panggil~

[Insert rape jokes here] HAHAHAHAHA! (Tawa persyarikatan ngabers ngecrot deras sampai water cannon pamungkas isilop pun minder.)

Tapi Abang ga setuju feminisme baratmatriarkimenyimpang walaupun sebetulnya Abangpunbelumbelajarjadibelummengertihehe. Tapi pokoknya Abang ga setuju karena mengusikkenyamanandanstatusquoAbang.

(Dialog berikut diambil dari pengalaman empiris Penulis.) “Kau tau warna ungu itu apa?” tanya Sang Paman, seniornya abang-abang.

“Warna apa emangnya, Om?”

“Warna gerakan gender, gerakan feminis!” Sorot matanya menyalak. “Hati-hatilah.”

Sungguh, adakah yang lebih horor dari paranoia akibat mengiris mata dan telinga sendiri?

***

Akhir kata, Penulis juga berwasiat kepada diri sendiri yang pernah dan (pasti) masih patriarkis. Namun, semoga kita yang mau belajar akan terus berbenah. Amin.

2023

Gimana Kabarmu?

Haihai, Sayang/Cinta/Kasih/My Kind of Woman . Gimana harimu? Gimana kabarmu?

Gapapa, chat ini ga mesti kamu bales sekarang meski mungkin notifikasi udah hinggap di matamu. Toh, aku begitu pula kamu paham setiap orang punya pertarungan masing-masing.

1) Menunaikan ekspektasi yang dirantai di leher. 2) Ngeburuh, soalnya kapitalisme belum berhasil kita tumbangkan. 3) Nyari Tuhan yang ngintip doang kamu lagi nyasar ke mana-mana, padahal kamu sayang dan kangen Dia (yayaya aku tau kamu tau poin yang ini lebih ngarah ke aku).

Pokoknya, apapun pertarungan yang lagi kamu hadapin, jangan lupa makan empat sehat kamu sempurnaaa. Hehe, maap~

Juga jangan lupa kalo kamu sooo lovely and desserve all the good things and i lop u so muach lahh walau di kepalamu namaku udah layar hape pecah.

2023

Semangka

Cuaca lagi terik banget, ya. Hujan kayaknya lupa alamat rumahku. Semoga sumur di rumahmu ga sampe kering.

Oh, iya, aku punya banyak semangka, nih. Seger-seger, pasangan serasi udara panas. Tolong bagiin ke yang lain juga, ya. Lumayan buat makan di rumah, buat piknik, buat bikin jus.

Atau, bisa kamu jadiin stok amunisi buat nimpukin tank-tank Israel. Biji-bijinya juga bisa kamu simpan buat nanti panen semangka di seantero Palestina.

2023

Cara Penyajian Mi

1. Rebus mi dalam air mendidih sambil diaduk.

2. Sementara mi direbus, agar lebih lezat, pecahkan diri Anda. Rebus setengah atau matang sepenuhnya, sesuai selera.

Panduan tak perlu dilanjutkan jika Anda telah melakukan langkah nomor 2.

(Catatan: mi paling nikmat disajikan saat hujan mengucur kekal.)

2023

Nginep, Nobar

malam-malam suntuk ini Kamu nginep di rumahku. “welcome. thanks, ya. padahal, biasanya ga ada yang tertarik sama ajakanku. btw, maaf, kamarku agak berantakan.”

kemudian, aku ngajak Kamu nobar k-movie (kepin’s movie) ecek-ecek yang isinya cuma muter-muter soal keluh, kesah, kelu, resah, sepi, sepi, sepi, sepi. durasi filmnya sampai azan subuh pecah di toa masjid.

“tolong jangan pergi di tengah-tengah durasi, ya, ’Mu?”

2023

Terakhir, bonus. Aku bingung apakah puisi satu ini nyambung atau tidak untuk masuk daftar puisi di atas. Namun, aku cukup puas dengan kekonyolan satir dan nuansa eksperimental di puisi ini.

Fe.Odal.

a.n., yth., ytc., Bpk. Mayjen TNI K.H. Prof. Dr. (H.C.) Ir., M.A., M.Sc., M.S.G., S.T.M.J., Yw.Dh., S.Ip., M.Ntp., R.Aa.Wrr., W.K.Wk.

2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *