Oleh : Ahmad Nazriansyah_Mahasiswa Sosiologi UBB

Bangka belitung merupakan provinsi kepuluan yang menyimpan begitu banyak kekayaan alam di bidang pariwisata dan menyimpan hasil bumi yang amat besar. Provinsi kepulauan bangka belitung lebih di kenal sebagai satu-satunya provinsi penghasil timah terbesar di Indonesia, dan penyumbang timah terbesar ke-2 di dunia dengan presentase 30 persen timah dunia berasal dari bangka belitung. Bahkan asal nama pulau bangka sendiri berasal dari bahasa sansakerta yakni vanka (wanka) yang berarti timah. Hingga sampai saat ini sumber mata pencaharian masyarakat di bangka belitung selain di bidang pertanian dan pariwisata juga berpangku pada kegiatan pertambangan timah yang merupakan juga merupakan sektor primer dalam struktur perekonomian masyarakat di bangka belitung.


Di pasar internasional timah dari bangka belitung diberikan merk dengan banka tin yang memiliki karakteristik khusus yaitu timah putih ( stannum ) yang di klaim merupakan timah dengan kualias terbaik. Sejarah pertambangan timah sudah melewati dari masa ke masa , awal pertambangan timah di lakukan pada saat jaman pemerintahan kolonial belanda pada abad ke-19 dan di teruskan sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia pasca kemerdekaan indonesia. Sehingga sampai saat ini sertelah masa reformasi muncul yang namanya tambang inkonvensional alias (TI) yang di kelola masyarakat sekitar. Dan menopang perekonomian masyarakat apalagi saat kondisi saat ini komoditas harga timah per kilogram nya kian melambung dan menembus angka 260 ribu rupiah per kilogramnya.

Sebelum kita melangkah lebih jauh dan terbuai dalam dunia pertambangan timah di Bangka Belitung ini ada baiknya, sedikit banyaknya kita mengetahui dan mengulas sejarah awal pertambangan timah di Bangka Belitung. Timah merupakan sumber daya alam utama bangka belitung sejak dulu. Metode pertambangan timah terus ber evolusi dari zaman ke zaman, yang awalnya hanya memakai linggis hingga saat ini menggunakan alat berat seperti excavator dan sebagainya, awalnya masyarakat terdahulu hanya mendapatkan sebagian kecilnya saja dalam menambang timah, berbeda dengan masyarakat sekarang yang bisa mendapatkan timah kurang lebih 100 kilogram sampai dengan 1 ton di setiap minggunya tergantung pemilik modal setiap penambangnya. Kegiatan pertambangan timah di duga sudah lama di lakukan pada saat pelaut asal india mendatangi pulau wangka saat itu yang terjadi pada saat awal abad pertama menurut sejarawan george ceodes. Setelah berabad lamanya kerajaan kuno juga menyimpan catatan penting terkait dengan pertambangan timah di bangka belitung salah satunya kerjaan sriwijaya dengan di buktikannya penemuan prasasti kota kapur yang bercerita tentang pertambangan timah di bangka belitung pada abad ke-7.

Pada masa saat kepemimpinan sultan mahmud badarudin I selang tahun 1730an- 1740an penambangan timah di pulau bangka di lakukan secara besar-besaran. Produksi timah saat itu tidak besar karena penggalianya masih di permukaan. Wan Akub pada saat itu menjabat sebagai kepala negri dan kepala pertambangan di pulau memberi usul pada Kesultanan Palembang untuk mendatangkan kuli tambang Tionghoa dari Siam dan Chocin. Seketika produksi tambang timah meningkat drastis. Sehingga pundi uang Kesultanan Palembang meningkat. Bukan tanpa alasan kesultanan memperkerjakan orang-orang tionghoa, karena pada saat itu orang tionghoa lebih disiplin dan kuat ketimbang pribumi dan mereka sudah mengenal sistem kolong dengan menggunakan pacul, sehingga produksi timah kian meningkat, berbeda dengan pertambangan dengan pribumi yang hanya menggunakan linggis ke bawah dengan diameter yang kecil seperti sumur. Sehingga produksi mereka jauh lebih sedikit.

Pada 1811 Inggris menduduki Bangka. Kesultanan Palembang di bawah Sultan Najamuddin menyerahkan Bangka dan Belitung kepada Inggris. Namun pada 1814 muncul Traktat London I, mewajibkan Inggris untuk menyerahkan Bangka kepada Pemerintahan Kolonial Belanda. Sehingga pada 1816 Belanda menguasai Bangka secara penuh.Kemudian tahun 1819 Belanda membentuk Banka Tin Winning Bedrijf (BTW), sebuah perusahaan timah milik negara Belanda. Serta menjual timah dengan merek bernama BANKA. Selama proses perjalanan taambang timah di bawah kolonial belanda terrjadu banak sekali pemberontakan yang dilakukan olar para kuli tambang, asumsi dasar mereka untuk memberontak yakni upah minimum yang diberikan kala itu sangat lah kecil dan tidak seimbang dengan harga timah yang saat ini melambung sehingga banyak sekali korban jiwa yang bergelimpangan salah satunya liu nge merupakan tokoh kuli tambang yang memberontak yang mempunyai pengikut , ia di beri hukuman gantung pemerintah kala itu akan tetapi versi masyarakat sekitar ia di tembak mati oleh tentara belanda.

Waktu berlalu dan Masa rezim pun berganti , 3 tahun indonesia di rebut oleh jepang dari belanda, tepat nya tahun 1942, tidak menutup kemungkinan pertambangan timah di bangka pun di ambil alih rezim jepang kala itu di bawah kendali Mitsubishi Kabushiki Kaisha (MKK). Kemurungan terjadi pada pemerintah jepang karena produksi timah yang mereka peroleh menurun drastis dari hasil produksi kolonial belanda. Karena kala itu jepang tidak begitu menguasaui dunia pertambangan mereka hanya berfokus kepada perang dunia ke- II. Tepat pada tahun 1945 jepang tunduk kepada AS di jatuhkannya bom atom di dua lokasi yakni kota hiroshima dan nagasaki, sehingga indonesia kala itu langsung memproklamirkan diri sebagai negara yang merdeka atas kemunduan jepang pada PD ke- II. Belum genap satu tahun kemudia belanda keembali meng invansi indonesia dengan membawa sekutunya dan kembali mengeksploitasi timah di bangka. Perang terjadi dimana-mana, tak terkecuali Muntok sampai Pangkal Pinang di masa fase kronik revolusi Indonesia. Belanda pun menyerah menguasai Indonesia. Penambangan timah juga diserahkan ke pemerintahan Indonesia pada 1953.

Perusahaan timah Belanda dilebur kala itu, Namanya berganti menjadi PN Tambang Timah Bangka dan kemudian menjadi PT. Timah Tbk pada 1976. Masuk pada orba yang dipimpin oleh Soeharto, Muntok menjadi pusat peleburan timah. Komoditas ini menjadi barang strategis dengan penjagaan yang ketat. Masa-masa itu, masyarakat tidak bisa menambang karena semua hal yang berkaitan dengan penambangan timah di Bangka dikuasai penuh oleh PT. Timah Tbk. Sampai zaman berganti ketika Soeharto tak lagi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia pada 1998. Penambangan timah muncul di mana-mana. Siapapun dapat menambang dengan bebas dan muncul istilah tambang inkonvensional (TI) yang bukan dikelola negara. Hal ini terjadi karena timah sudah bukan barang strategis lagi. Banyak orang kaya mendadak tiba-tiba karena timah. Kebun-kebun yang tadinya dijadikan lahan pertanian dan perkebunan diganti menjadi pertambangan timah pada era 2000-an. Menjadi kolong-kolong yang kita lihat pada hari ini.

Permasalahan terkait pertambangan timah di bangka belitung saat ini kian kompleks, daerah pertambangan bukan hanya mencakup di daratan saja tetapi sudah merambat ke daerah pantai, sehingga tak heran kita menemukan kapal isap produksi ( KIP) didaerah pantai yang memang notabene nya daeah garis pertambangan seperti yang terjadi di kawasan wilayah pantai matras, tanjung pesona, dan sekitarnya. Terjadi banyak sekali penolakan yang dilontarkan masyarakat dan nelayan yang berlaut di sekitar. Menurut penuturan masyarakat lokal kian hari KIP kian mendekat daerah pesisir dan menghantam wilayah penangkapan ikan mereka sehingga terjadi ketergesekan antara penambang dengan nelayan dan masyarakat sekitar. Seperti contoh terjadinya bentrok antara kelompok nelayan teluk kelabat dengan penambang laut , para penambang memakan daerah zona tangkap mereka dan nelayan menolak hal itu dan terjadilah crash antara kedua kubu.


Bukan hanya itu saja kasus yang terjadi akibat konflik pertambangan timah di masayarakat . baru-baru ini di tengah pandemi melanda indonesia aliansi masyarakat nelayan melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran di depan kantor Pt.timah, mereka menuntut beberapa hak-hak yang seharusnya dipenuhi oleh pihak pt.timah tetapi tidak di indahkan. Begitu banyak cerita duka lara sepanjang perjalanan tambang timah di pulau bangka. Baik itu kerusakan alam yang di timbuulkan dan kerugian materil yang di tanggung menambah beban yang kian menumpuk bagi pemerintah Babel.

Di satu sisi pertambangan timah merupakan komoditas yang sangat tinggi nilai tukarnya hingga saat ini harga timah kian melambung menembus harga 260/kilogram. Ini merupakan salah satu faktor masyarakat untuk kembali menambang, maka tak jarang akhir ini terjadi peningkatan kegiatan penambang timah yang notabene milik masyarakat. Masyarakat saat ini cukuo dengan modal kecil dengan range 3-5 juta sudah bisa menambang timah dengan mode manual yang biasa di sebut dengan metode tungau ( nungau ) yang cukup di kerjakan oleh satu orang. Pemerintah dalam mengluarkan kebijakan berada dalam posisi serba salah yang dimana jika pertambangan timah di bangka belitung di larang, pundi-pundi perekonomian bangka belitung hampir 80 persen pendapatannya dari eskpor timah dari dulu hingga sekarang. Kita saat ini belum mampu untuk memaksimalkan teknologi yang ada, ekspor timah yang kita lakukan hanya sebatass timah batangan ( stannum ). Hingga muncul dibenak saya bagaimana mahasiswa tanggapan kita terkait akan hal ini? Ini adalah PR terbesar kita sebagai cikal baka yang akan meneruskan estapet kepemimpinan di masa yang akan datang.

Tuhan telah memberikan begitu banyak kekayaan alam kepada indonesia tak terlepas itu kekayaan alam berupa timah di bangka belitung. Tinggal tergantung kitanya siapkan kita mengelola apa yang sudah tuhan limpahkan kepada kita?. Mampu kah kita dalam menjaga keselarasan antara pertambangan dengan menjaga keberadaan lingkungan yang stabil.

Referensi :
https://www.ekuatorial.com/2021/02/sejarah-timah-di-bangka-dari-masa-ke-masa/
http://journal.univpancasila.ac.id/index.php/selisik/article/view/626
https://ejournal.borobudur.ac.id/index.php/1/article/view/629
https://jurnal.tekmira.esdm.go.id/index.php/minerba/article/view/893

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *