Beranda Opini Rasanya Pendidikan Indonesia Menjadi Sumber Beban Atau Kebahagiaan

Rasanya Pendidikan Indonesia Menjadi Sumber Beban Atau Kebahagiaan

Oleh: Sindy Ayu Kirana (Mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Bangka Belitung)

Apa rasa yang kamu rasakan selama menjadi pelajar di Indonesia? Apakah itu adalah rasa pahit, manis, asam, asin, pedas atau bahkan hambar.

Kadang rasanya mungkin sangat pahit, ketika kamu sudah lelah belajar sepanjang malam untuk ujian, ternyata hasilnya tidak memuaskan dan kamu harus remedi, atau bahkan kesempatan untuk remedi saja tak ada lagi.

Atau bahkan itu adalah rasa manis, ketika pengumuman juara kelas dan ternyata kamu masuk tiga besar atau yang biasanya kamu remedi, kali ini kamu mendapatkan nilai 80. Sesederhana itu bukan, untuk menikmati rasa manis.

Jangan-jangan rasanya adalah rasa masam, kamu sudah lelah sepanjang malam mengerjakan tugas, eh pagi-pagi teman kamu mencontek tugasmu, sudah tak apa, namun yang membuatnya menjadi rasa masam adalah ketika nilai dia lebih besar darimu, astaga sabar saja ya.

Hmm, kalau dipikir-pikir rasa paling banyak selama belajar di Indonesia mungkin adalah rasa asin, karena kamu terlalu banyak menangis. Ada yang harus menerima kenyataan tidak naik kelas atau bahkan tidak bisa lulus kuliah tepat waktu, kadang harus ikhlas ketika gagal terus menghantui, belum lagi dunia ini penuh dengan drama kehidupan.

Kamu pernah makan cabai? Pedas bukan rasanya, mungkin saja itu yang sedang kamu rasakan saat ini. Dimarahi Bapak/Ibu guru, atau bahkan dikritik Dosen mu di Kampus, uhuyyy pedas sekali rasanya, lebih pedas dari menu ayam geprek. Ya intinya jangan baper, mereka begitu pasti ada sebabnya, semoga saja untuk kebaikanmu.

Ada sebuah rasa yang sebenarnya tak punya rasa, yaitu hambar. Kenapa jadi begitu hambar, sebab pembelajaran nya begitu monoton, misalnya saja sebelum pandemi ada seorang mahasiswa biologi yang harus masuk pukul tujuh pagi, lalu pretest bisa juga postest, jadi itu adalah sejenis ujian kecil sebelum praktikum, lalu pelaksanaan praktikum, lanjut kuliah persentasi, resume jurnal, malamnya mengerjakan laporan yang tulis tangan dan siklus hidupnya akan sama setiap harinya, bukankah sangat membosankan apalagi di masa pandemi saat ini. Contoh satu lagi, misalnya anak-anak sekolahan yang ada di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di masa pendemi ini tak ada habis-habisnya diberikan tugas binti tugas, seumpama kamu sajalah diberikan tugas terus menerus kamu pasti lama kelamaan bakalan mengeluh, dikerjakan satu persatu bukannya semakin berkurang, ehh makin bertambah. Andai saja seorang pendidik membuat satu video untuk setiap pertemuan mungkin akan lebih menyenangkan, tanpa ada beban tugas yang mungkin siswa tersebut belum tentu paham, kan setiap orang cara belajar nya beda-beda, jadi salah satu tugas pendidik adalah memahami berbagai metode pembelajaran agar para siswa kecerdasan nya semakin meningkat bukan jadi stres atau bahkan depresi, yok semangat yok.

Apapun itu rasanya sebenarnya tidak masalah jika usaha yang sudah kami perjuangkan hasilnya setimpal, saya percaya Tuhan itu adil, hanya saja Manusia itu sendiri yang terkadang membuatnya jadi tidak adil. Mahasiswa A lelah tiap hari pergi pagi pulang sore untuk kuliah namun nilainya tetap BC sedangkan Mahasiswa B masuk siang pulang sore nilai tetap A, hal itu karna dunia pendidikan ini hanya melihat hasil akhir sedangkan perjuangan yang sudah-sudah hanya menjadi sebungkus kenangan yang harganya murah meriah. Semoga lelah yang kita perjuangkan mati-matian dihargai oleh sang pencipta, agar itu cukup sebagai bekal di Akhirat.

Lagi dan lagi sebuah pertanyaan muncul, bagaimana jika pendidikan negeri ini menjadi istilah lain dari kata beban, ilmu yang didapat tak seberapa, kadang luapan emosi meluap kepada orang lain. Mencari hiburan sesaat tanpa dapat memberikan kebahagiaan, timbullah rasa-rasa yang tidak diinginkan tadi.

Miris sekali rasanya, namun tetap saja itu yang terjadi saat ini. Anak-anak di rumah lebih banyak mencari hiburan dengan bermain game dan menonton, ntah game dan tontonan tersebut membawa dampak positif atau dampak negatif, tak peduli, toh hanya itu hiburan instan saat ini, hanya perlu mengandalkan kuota ataupun WiFi.

Pemerintah memberikan kuota gratis bagi para Siswa, Mahasiswa, dan juga para pendidik, tapi sebagai Mahasiswa saya merasa kuota yang diberikan kurang bermanfaat, sebab yang dibutuhkan bukan hanya kuota belajar tapi juga kuota umum, sayangnya kuota belajar dan umum yang diberikan tidak seimbang.

Kuota belajar yang diberikan, katanya bisa digunakan untuk zoom, namun ketika kuota umum habis dan hanya tersisa kuota belajar, kenapa mendownload aplikasi zoom saja tidak mampu? Ini toh rasanya asam banget.

Saya melihat ada beberapa yang perlu diperhatikan, ya benar bukankah para pendidik mendapat kan honor dalam pekerjaan mereka yang mulia, tapi apakah semua itu sudah balence antara pengajaran yang diberikan dengan honor yang diberikan, tentu saja saya tidak bisa menjawab semua ini. Persepsi dan pandangan kita pasti berbeda-beda, pemerintah boleh jadi mengatakan bayarannya sudah setimpal, para siswa dan mahasiswa menganggap bayaran itu tidak ada kaitannya dengan mereka, sehingga memikih untuk diam, sedangkan para pendidik berpendapat itu masih kurang, ya semua orang bebas untuk berpendapat.

Suatu hari saya berbicara pada teman saya, “Bapak A luar biasa ya, pagi-pagi dia sudah bangun menyiapkan materi dan juga link zoom, lah kita pagi-pagi masih rebahan di atas kasur.”

“Iya tapi mereka digaji jok”.

“Oh iya benar juga”. Pada dasarnya setiap pendidik memiliki tanggungjawab atas pilihannya begitu pula para siswa dan mahasiswa, namun permasalahannya adalah bagaimana pelajaran itu dapat menjadi menarik, bukankah para siswa itu belum menentukan pilihan mereka sejak awal untuk adik-adik yang masih diabangku SD dan SMP, untuk yang sudah SMA dan SMK juga bisa jadi mereka terpaksa, atau untuk Mahasiswa kemungkinan mereka salah jurusan juga ada, walaupun takdir Allah adalah yang terbaik. Di sini adik-adik itu masih wajib belajar matematika, bahasa Indonesia, IPS, IPA, olahraga dan lain-lain. Pada dasarnya sejak awal kita tidak diajarkan untuk memilih tapi kita hanya menerima apa yang belum tentu bisa kita terima. Kami yang menerima ini berharap semua bisa lebih mudah dan menarik untuk dapat diterima. Terimakasih.

(Sindy Ayu Kirana/Red LPM UBB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Gemuruh Kantin Berisik Vol. 3: “Bangkit & Bergerak”

Salah satu band lokal, Sisilain, menyemarakkan Kantin Berisik Vol.3. Foto oleh Eka/LPM UBB. Balunijuk, LPM UBB- UKM GEMA...

Meminimalisir Abrasi di Pulau Semujur : HIMAGRO UBB Gelar Kegiatan Penyuluhan dan Penanaman Tanaman

BALUNIJUK _Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGRO) Universitas Bangka Belitung melaksanakan kegiatan penyuluhan dan penanaman Tanaman yang bertajuk "Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Pemulihan dan...

Mengenal Kekerasan Seksual dan Konseling Berperspektif Gender

Ilustrasi oeh Febri. Trigger warning: Artikel wawancara ini berbicara tentang kekerasan seksual yang mungkin dapat mengganggu kenyamanan Anda....

“Panggung Ekspresi”, Kala Kesenian Bicara Petani dan Agraria

Papan seruan aksi di panggung utama dalam Panggung Ekspresi. Foto oleh Kevin. Pangkalpinang, LPM UBB - Badan Eksekutif...

Recent Comments