Beranda Opini Menghindari Perilaku Konsumtif Dalam Menyambut Hari Raya Idul Fitri

Menghindari Perilaku Konsumtif Dalam Menyambut Hari Raya Idul Fitri

Deby Ramadhani
Mahasiswa Jurusan Sosiologi Universitas Bangka Belitung

Dewasa ini masyarakat membeli sesuatu bukan lagi sesuai dengan kebutuhan melainkan karena keinginan. Belanja telah menjadi sebuah kegemaran setiap orang mulai dari anak-anak, dewasa, hingga tua pun gemar berbelanja. Sebenarnya hal ini lumrah terjadi pada manusia dalam memenuhi kebutuhannya, hanya saja fenomena yang terjadi saat ini adalah seseorang menjadi berlebihan dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut. Adanya keinginan untuk membeli suatu produk yang berlebihan merupakan awal munculnya perilaku konsumtif. Individu akan secara terus menerus membeli barang hanya berdasarkan apa yang mereka inginkan, bukan berdasarkan apa yang dibutuhkan (Fitriyani, Widodo, & Fauziah, 2013). Faktor keinginan tersebut dapat dilihat dari masyarakat yang kemudian membeli sesuatu hanya untuk menaikkan prestise, gengsi dan alasan lainnya.

Perilaku konsumtif pun sering terjadi menjelang hari raya idul Fitri. Di Indonesia dalam merayakan idul Fitri ada sebuah tradisi unik yang sering disebut dengan istilah mudik. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh perantau yang tinggal di kota-kota besar, terutama Jakarta. Mudik lebaran merupakan ritual tahunan yang tidak pernah dilewatkan oleh umat muslim perantau yang ada di kota-kota seluruh Indonesia ( Muskinul Fuad : 2011 ). Selain tradisi mudik ada tradisi unik lain dalam menyambut hari raya Idul Fitri yaitu tradisi berbelanja yang dilakukan oleh umat muslim di Indonesia. Iklan yang gencar dilakukan oleh kapitalis dengan menayangkan produk-produk baru, membuat Idul Fitri menjadi identik dengan penggunaan produk baru. Masyarakat kemudian terhegemoni dan tidak lagi berpikir tentang harga, asal itu sedang hits maka langsung dibeli.

Pusat- pusat perbelanjaan pun menjadi penuh oleh pengunjung. Ada yang memang berbelanja karena terdorong oleh kebutuhan yang memang mendesak menyambut Lebaran, tetapi tak sedikit pula mereka berbelanja hanya karena gengsi atau hasrat agar tidak kalah dari tetangga di sebelah rumahnya. Contohnya seperti Pasar terbesar di Asia Tenggara yaitu Tanah Abang, di Jakarta Pusat yang pada hari minggu 2 Mei 2021 telah didatangi oleh setidaknya 100 ribu pengunjung menurut catatan Gubernur Anies Baswedan. Para pengunjung datang untuk membeli persiapan lebaran, padahal saat ini tingkat penyebaran Covid masih sangat tinggi di Jakarta. Alasan para pengunjung berbelanja ke Tanah Abang adalah karena banyaknya diskon yang ditawarkan dan harga nya yang relatif murah dengan kualitas yang bagus. Masyarakat kemudian terpesona dengan iming-iming yang ditawarkan oleh para kaum kapitalisme ini hingga kemudian berbelanja sesuka hati tanpa memikirkan keuangan.

Contoh kasus lain terjadi di pasar Tanjungpandan, Belitung dimana harga daging sapi dan ayam mengalami kenaikkan terhitung dari delapan hari sebelum hari raya Idul Fitri 1442 Hijriah. Kepala Bidang Usaha Perdagangan Dinas Koperasi UKM Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Belitung, Rita Yuliani mengatakan harga daging sapi melonjak naik dari Rp140 ribu per kilogram menjadi Rp160 ribu per kilogram dan daging ayam naik dari Rp45 ribu per kilogram menjadi Rp50 ribu per kilogram Menurut nya, kenaikan harga daging dan ayam disebabkan oleh tingginya permintaan masyarakat terhadap dua jenis komoditi itu menjelang Idulfitri 1442 Hijriah. Selain itu perilaku konsumtif lainnya dapat dilihat dengan adanya perkembangan teknologi yang membuat belanja menjadi lebih mudah, hanya melalui aplikasi berbelanja orang sudah bisa berbelanja apapun dengan beragam promosi menarik seperti cashback, diskon besar-besaran, hingga gratis ongkir. Akibatnya masyarakat kemudian terhegemoni oleh tawaran yang menarik sehingga kemudian membeli bukan karena kebutuhan tetapi karena gengsi, identitas sosial (prestise) semata.

Hal ini senada dengan meningkatnya pengiriman barang belanja melalui jasa ekspedisi. Head of Consulting Division SCI Zaroni mengatakan kondisi pandemi membuat terjadinya perubahan terhadap perilaku belanja masyarakat dari yang bersifat offline menjadi online yang berdampak terhadap meningkatnya pengiriman barang. Kebijakan PPKM dan larangan mudik juga memicu peningkatan pengiriman terutama kepada para keluarga dan kerabat pada Ramadan hingga menjelang Lebaran. Kebiasaan konsumtif dengan berbelanja untuk menyambut hari raya idul Fitri telah menjadi sebuah fenomena yang lumrah terjadi. Masyarakat menganggap bahwa Idul Fitri harus dirayakan dengan perayaan yang terbaik dan dengan sesuatu yang baru mulai dari pakaian, perhiasan, barang elektronik, perabotan rumah tangga, menu makanan harus spesial yang kadang kala tidak sesuai dengan keadaan ekonominya.

Oleh karena itu agar masyarakat mampu menghindari berperilaku konsumtif dalam menyambut hari raya Idul Fitri adalah dengan menghindari untuk membeli barang secara berlebihan. Memang tak ada salahnya jika masyarakat ingin berbelanja atau membeli pakaian baru sebagai suatu simbol kembali fitri, tapi jangan berlebihan karena sesuatu yang berlebihan itu menjadi perilaku yang mubazir. Hal yang paling penting pada hari raya Idul Fitri adalah kewajiban membayar zakat dengan rejeki yang telah didapatkan atas izin Allah SWT. Selain itu masyarakat juga perlu menyadari bahwa setelah hari raya Idul Fitri masih ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Oleh karena itu penting sekali apabila masyarakat dapat menyisakan rejeki tunjangan hari raya yang diberikan untuk ditabung. Apalagi di tahun ini, hari raya Idul Fitri masih beriringan dengan Covid 19. Tentunya penghasilan juga belum begitu stabil karena dampak dari kebijakan pemerintah untuk pembatasan sosial skala besar.

Hal ini perlu dicermati oleh masyarakat jangan sampai mengutamakan membeli barang-barang baru untuk dipakai saat Idul Fitri tetapi kebutuhan pokok setelah hari raya Idul Fitri menjadi terbengkalai. Perlu dipahami bahwa hari raya Idul Fitri bukan hanya tentang baju baru dan semua yang baru. Tapi bagaimana untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Lebih dari itu Idul Fitri diartikan sebagai kembalinya seseorang kepada keadaan yang suci dan menjadi pintu untuk saling memaafkan. Idul Fitri menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan dalam menahan hawa nafsu selama menjalankan ibadah puasa Ramadan. Makna ini akan menimbulkan perasaan untuk selalu bersyukur atas segala yang telah dimiliki.

(Deby Ramadhani/Red LPM UBB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Gemuruh Kantin Berisik Vol. 3: “Bangkit & Bergerak”

Salah satu band lokal, Sisilain, menyemarakkan Kantin Berisik Vol.3. Foto oleh Eka/LPM UBB. Balunijuk, LPM UBB- UKM GEMA...

Meminimalisir Abrasi di Pulau Semujur : HIMAGRO UBB Gelar Kegiatan Penyuluhan dan Penanaman Tanaman

BALUNIJUK _Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGRO) Universitas Bangka Belitung melaksanakan kegiatan penyuluhan dan penanaman Tanaman yang bertajuk "Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Pemulihan dan...

Mengenal Kekerasan Seksual dan Konseling Berperspektif Gender

Ilustrasi oeh Febri. Trigger warning: Artikel wawancara ini berbicara tentang kekerasan seksual yang mungkin dapat mengganggu kenyamanan Anda....

“Panggung Ekspresi”, Kala Kesenian Bicara Petani dan Agraria

Papan seruan aksi di panggung utama dalam Panggung Ekspresi. Foto oleh Kevin. Pangkalpinang, LPM UBB - Badan Eksekutif...

Recent Comments